Jaringan komputer merupakan media transmisi antar perangkat yang memungkinkan adanya komunikasi pada setiap perangkat yang terhubung. Dengan hal tersebut komunikasi jarak jauh sangat mungkin dilakukan dan tipe komunikasi yang semakin beragam, pertumbuhan jumlah perangkat yang memanfaatkan jaringan komputer semakin bertambah dari waktu ke waktu. Jaringan komputer membuat abstraksi sistem yang sangat luas sehingga bisa menghubungan seluruh masyarakat dunia tanpa batasan geografis dan waktu atau yang biasa disebut dengan internet.
Dengan demikian kebutuhan akan jaringan komputer sudah tidak bisa dihindarkan lagi, tanpa jaringan komputer masyarakat akan memiliki pengetahuan yang terbatas dan seolah-olah terisolasi dari dunia luar. Jaringan komputer harus digunakan secara proposional dan bertanggung jawab agar tidak merugikan pihak lain atau yang menggunakan. Dalam konteks ini, pengendalian jaringan komputer bisa menjadi solusi dengan beberapa mekanisme yang dilakukan pada ruang lingkup individu ataupun skala besar seperti :
1. Membatasi jumlah penggunakan data setiap user, agar jaringan yang tersedia bisa digunakan secara efektif oleh semua users. Hal ini bisa dilakukan dengan bandwidth management ataupun sistem serupa yang bisa mengatur jumlah data yang ditransmisikan berdasarkan beberapa parameter seperti waktu, sumber, tujuan dan jenis data. Semakin banyak parameter yang digunakan bisa membuat pembatasan menjadi lebih presisi.
2. Penggunaan firewall merupakan salah satu hal wajib yang digunakan untuk mendefinisikan hanya data dengan karakteristik tertentu yang dapat melalui jaringan, tujuan utamanya adalah menghindara transmisi data yang tidak diinginkan melewati sistem sehingga menimbulkan ancaman keamanan baik dari sisi user, hardware dan perangkat lunak
3. Membangun arsitektur (topology) yang benar, sehingga alur lalu lintas data dari satu titik ke titik lain bisa menggunakan jalur tercepat dan menghindari single point of failure dimana setiap jalur harus memiliki redundansi agar transmisi data dapat terus berjalan.
Rabu, 25 Oktober 2017
Bagaimana cara pengendalian perangkat lunak
perangkat lunak merupakan komponen yang mentranslasikan instruksi dari user ke perangkat keras, dewasa ini perangkat lunak telah mengalami perubahan yang signifikan dari waktu ke waktu. kehidupan masyarakat juga ikut berubah seperti sekarang ini dimana kehidupan masyarakat tidak lepas dari interaksi dengan berbagai macam software untuk mempermudah pekerjaan ataupun sebagai media hiburan.
Perangkat lunak dalam sebuah korporasi memegang peranan penting dalam berjalannya bisnis proses secara terus menerus, oleh karena itu tidak boleh adanya gangguan yang mengakibatkan perangkat lunak bermasalah apalagi tidak bisa digunakan. Perangkat lunak yang dibuat juga harus disesuaikan dengan kebutuhan dari organisasi tersebut dan menghilangkan fungsi-fungsi yang tidak perlu agar dapat berjalan secara maksimal dan memudahkan pengguna dalam penggunaannya.
Dari penjabaran diatas, perlu dilakukannya pengendalian perangkat lunak yang dilakukan secara sistematis dan terencana sebagai berikut :
1. Melakukan assessment secara berkala baik dari sisi fungsi ataupun performa perangkat lunak
2. Menggunakan perangkat monitoring agar ketika terjadi masalah performa aplikasi bisa diketahui bagian mana yang perlu dilakukan perbaikan
3. Menggunakan antivirus sebagai pelindung perangkat lunak terutama pada sistem operasi yang menjadi basis sitem berjalannya aplikasi
3. Perlu dilakukannya penetration test untuk mengetahui perangkat lunak terutama aplikasi memiliki kelemahan keamanan dimana saja
4. Berkaitan dengan poin 3 perlu dilakukan pembaharuan sistem seperti patch untuk melindung aplikasi tersebut.
Perangkat lunak dalam sebuah korporasi memegang peranan penting dalam berjalannya bisnis proses secara terus menerus, oleh karena itu tidak boleh adanya gangguan yang mengakibatkan perangkat lunak bermasalah apalagi tidak bisa digunakan. Perangkat lunak yang dibuat juga harus disesuaikan dengan kebutuhan dari organisasi tersebut dan menghilangkan fungsi-fungsi yang tidak perlu agar dapat berjalan secara maksimal dan memudahkan pengguna dalam penggunaannya.
Dari penjabaran diatas, perlu dilakukannya pengendalian perangkat lunak yang dilakukan secara sistematis dan terencana sebagai berikut :
1. Melakukan assessment secara berkala baik dari sisi fungsi ataupun performa perangkat lunak
2. Menggunakan perangkat monitoring agar ketika terjadi masalah performa aplikasi bisa diketahui bagian mana yang perlu dilakukan perbaikan
3. Menggunakan antivirus sebagai pelindung perangkat lunak terutama pada sistem operasi yang menjadi basis sitem berjalannya aplikasi
3. Perlu dilakukannya penetration test untuk mengetahui perangkat lunak terutama aplikasi memiliki kelemahan keamanan dimana saja
4. Berkaitan dengan poin 3 perlu dilakukan pembaharuan sistem seperti patch untuk melindung aplikasi tersebut.
Bagaimana cara pengendalian perangkat keras
Perangkat keras adalah elemen penting yang menjadi pondasi dalam berjalannya suatu sistem. Sebuah perangkat akan terus beregenerasi ketika kapasitas yang tersedia sudah tidak memenuhi kebutuhan ataupun sistem yang berjalan diatasnya membutuhkan arsitektur hardware yang lebih modern, disatu sisi setiap organisasi selalu mempertimbankan pergantian perangkat karena aspek ekonomis sehingga ada kalanya harus dilakukan optimisasi dari sisi hardware ataupun software untuk menghindari hal tersebut. Adakalanya sebuah hardware juga menjadi media penyebaran malware yang dapat melumpuhkan sistem secara keseluruhan ataupun parsial. Diluar hal yang sudah disebutkan, mungkin ada aspek-aspek lain yang perlu diperhatikan pada hardware.
Pengendalian hardware bisa dilakukan dengan tujuan hardware bisa melakukan tugas-tugasnya secara optimal dan meminimalisir gangguan yang bersinggungan dengan hardware, diantaranya sebagai berikut :
1. Melakukan inventory (secara manual atau otomatis) agar seluruh perangkat yang ada dapat di lacak keberadaannya, hal ini membantu organisasi dalam melindungi asset jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
2. Melakukan integrasi dengan policy management, dengan proses ini diharapkan penggunaan terhadap hardware bisa dikontrol seperti policy yang diimplementasikan pada komputer user sehingga user tersebut hanya dapat menggunakan media penyimpanan eksternal yang sudah didefinisikan policy management, salah satu keuntungannya adalah membatasi penyebaran malware ataupun software bajakan melalui media usb dan cd
3. Menggunakan monitoring tools untuk melihat utilisasi hardware secara real time ataupun historikal, tujuannya tidak lain dapat mengetahui laju kenaikan utilisasi hardware dari waktu ke waktu sehingga penggantian perangkat dapat diestimasi dan dapat dibutikan ke pihak manajemen ataupun dasar yang digunakan sebagai optimiasi hardware ataupun software
Pengendalian hardware bisa dilakukan dengan tujuan hardware bisa melakukan tugas-tugasnya secara optimal dan meminimalisir gangguan yang bersinggungan dengan hardware, diantaranya sebagai berikut :
1. Melakukan inventory (secara manual atau otomatis) agar seluruh perangkat yang ada dapat di lacak keberadaannya, hal ini membantu organisasi dalam melindungi asset jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
2. Melakukan integrasi dengan policy management, dengan proses ini diharapkan penggunaan terhadap hardware bisa dikontrol seperti policy yang diimplementasikan pada komputer user sehingga user tersebut hanya dapat menggunakan media penyimpanan eksternal yang sudah didefinisikan policy management, salah satu keuntungannya adalah membatasi penyebaran malware ataupun software bajakan melalui media usb dan cd
3. Menggunakan monitoring tools untuk melihat utilisasi hardware secara real time ataupun historikal, tujuannya tidak lain dapat mengetahui laju kenaikan utilisasi hardware dari waktu ke waktu sehingga penggantian perangkat dapat diestimasi dan dapat dibutikan ke pihak manajemen ataupun dasar yang digunakan sebagai optimiasi hardware ataupun software
Bagaimana cara pengendalian personil (user pengguna TI)
Dalam sistem informasi pada suatu organisasi selain perangkat lunak dan perangkat keras, adalah user/pengguna merupakan bagian yang perlu diperhatikaj dalam membangun suatu sistem informasi. Dalam hal ini user berperan besar dalam memberikan efek positif dan negatif. Efek negatif yang ditimbulkan tentu akan sangat sulit di prediksi dampaknya karena karakteristik dari setiap user berbeda-beda.
Dengan kondisi ini, perlu adanya dilakukan pengendalian terhadap user agar aktivitas dari setiap user bisa terkontrol. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melakukan hal tersebut diantaranya ;
1. Membuat kebijakan sistem autentikasi secara terpusat kepada setiap perangkat endpoint milik users, hal ini membuat setiap perangkat dapat dikenali siapa pemiliknya secara mudah dan real time dan menghindari perangkat digunakan oleh individu yang tidak berwenang
2. Memberikan hak akses tertentu kepada masing-masing user ataupun grup users, fungsinya untuk memastikan setiap users hanya bisa menggunakan sistek yang memang dibutuhkan
3. Melakukan audit secara berkala dari aturan yang sudah diterapkan untuk memastikan aturan yang sudah diterapkan sudah sesuai dengan karakteristik sistem informasi tersebut.
Dengan kondisi ini, perlu adanya dilakukan pengendalian terhadap user agar aktivitas dari setiap user bisa terkontrol. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melakukan hal tersebut diantaranya ;
1. Membuat kebijakan sistem autentikasi secara terpusat kepada setiap perangkat endpoint milik users, hal ini membuat setiap perangkat dapat dikenali siapa pemiliknya secara mudah dan real time dan menghindari perangkat digunakan oleh individu yang tidak berwenang
2. Memberikan hak akses tertentu kepada masing-masing user ataupun grup users, fungsinya untuk memastikan setiap users hanya bisa menggunakan sistek yang memang dibutuhkan
3. Melakukan audit secara berkala dari aturan yang sudah diterapkan untuk memastikan aturan yang sudah diterapkan sudah sesuai dengan karakteristik sistem informasi tersebut.
Sabtu, 07 Oktober 2017
Audit Sistem Informasi
Pendahuluan
Istilah
EDP-Audit (electronic data processing audit), atau computer audit, kini lebih
sering disebut dengan audit sistem informasi (information systems audit). Pada
awalnya EDP audit dilakukan hanya dalam rangka audit laporan keuangan.
Dalam perkembangannya kemudian, karena pentingnya dan makin besarnya investasi dalam TI. Organisasi perusahaan makin merasakan perlunya audit operasional terhadap fungsi TI-nya. Maka secara umum audit sistem informasi dimaksudkan untuk mengavaluasi tingkat kesesuaian antara sistem informasi dengan prosedur bisnis (bisnis processes) perusahaan (atau kebutuhan pengguna, user needs), untuk mengetahui apakah suatu sistem informasi telah didesain dan diimpilmentasikan secara efektif, efisien, dan ekonomis, memiliki mekanisme pengamanan aset, serta menjamin integritas data yang memadai.
Dalam perkembangannya kemudian, karena pentingnya dan makin besarnya investasi dalam TI. Organisasi perusahaan makin merasakan perlunya audit operasional terhadap fungsi TI-nya. Maka secara umum audit sistem informasi dimaksudkan untuk mengavaluasi tingkat kesesuaian antara sistem informasi dengan prosedur bisnis (bisnis processes) perusahaan (atau kebutuhan pengguna, user needs), untuk mengetahui apakah suatu sistem informasi telah didesain dan diimpilmentasikan secara efektif, efisien, dan ekonomis, memiliki mekanisme pengamanan aset, serta menjamin integritas data yang memadai.
Audit
SI berbasis teknologi informasi dapat digolongkan dalam tipe atau jenis-jenis
pemeriksaan:
a) Audit
laporan keuangan (general audit on financial)
Dalam
hal ini audit terhadap aspek-aspek teknologi informasi pada suatu sistem
informasi. akuntansi berbasis teknologi informasi adalah dilaksanakan dalam
rangka audit keuangan.
b) Audit
sistem informasi (SI) sebagai kegiatan tersendiri, terpisah dari pada keuangan.
Sebetulnya audit SI pada hakekatnya salah satu dari bentuk audit operasional,
tetapi kini lebih dikenal sebagai satu satuan jenis audit tersendiri yang
tujuan utamanya lebih untuk meningkatkan IT governance.
Minggu, 23 April 2017
Dasar IPv6 : Fitur IPv6 (versi 1)
Sebagai teknologi penerus atau bisa disebut sebagai pengganti IPv4, dalam standarnya IPv6 mempunyai berbagai fitur baru yang selain mengatasi berbagai keterbatasan pengalamatan menggunakan IPv4 juga menambah beberapa kemampuan baru. Beberapa fitur IPv6 ini antara lain sebagai berikut :
Format header baru Header baru IPv6 lebih efisien daripada header pada IPv4 (karena memiliki overhead yang lebih kecil). Hal ini diperoleh dengan menghilangkan beberapa bagian yang tidak penting atau opsional.
Jumlah alamat yang jauh lebih besar Dengan spesifikasi bit untuk alamat standar sebanyak 128-bit memiliki arti IPv6 akan mampu menyediakan 2^128 kemungkinan alamat unik. Walaupun tidak semuanya akan dialokasikan namun sudah cukup untuk keperluan masa mendatang sehingga teknologi semacam NAT pada IPv4 sudah tidak perlu lagi digunakan.
Infrastruktur routing dan addressing yang efisien dan hirarkis. Arsitektur pengalamatan IPv6 yang hirarkis membuat infrastruktur routing menjadi efisien dan hirarkis juga. Adanya konsep skup juga memudahkan dalam manajemen pengalamatan untuk berbagai mode teknologi transmisi.
Kemampuan Plug-and-play melalui stateless maupun statefull address auto-configuration. Pada teknologi IPv6, sebuah node yang memerlukan alamat bisa secara otomatis mendapatkannya (alamat global) dari router IPv6 ataupun cukup dengan mengkonfigurasi dirinya sendiri dengan alamat IPv6 tertentu (alamat link local) tanpa perlu adanya DHCP server seperti pada IPv4. Hal ini juga akan memudahkan konfigurasi. Hal ini penting bagi kesuksesan teknologi pengalamatan masa depan karena di Internet masa depan nanti akan semakin banyak node yang akan terkoneksi. Perangkat rumah tangga dan bahkan manusia pun bisa saja akan memiliki alamat IP. Tentu saja ini mensyaratkan kesederhanaan dalam konfigurasinya. Mekanisme konfigurasi otomatis pada IPv6 ini akan memudahkan tiap host untuk mendapatkan alamat, menemukan tetangga dan router default bahkan menggunakan lebih dari satu router default untuk redundansi dengan efisien.
Keamanan yang sudah menjadi standar built-in. Jika pada IPv4 fitur IPsec hanya bersifat opsional maka pada IPv6 fitur IPsec ini menjadi spesifikasi standar. Paket IPv6 sudah bisa secara langsung diamankan pada layer network.
Dukungan yang lebih bagus untuk QoS Adanya bagian (field) baru pada header IPv6 untuk mengidentifikasi trafik (Flow Label) dan Traffic Class untuk prioritas trafik membuat QoS yang lebih terjamin bisa diperoleh, bahkan ketika payload dari paket terenkripsi dengan IPSec dan ESP.
Berbagai protokol baru untuk keperluan interaksi antar node Adanya protokol baru misalnya Network Discovery dengan komunikasi multicast dan unicast yang efisien bisa menggantikan komunikasi broadcast ARP untuk menemukan neighbor dalam jaringan.
Ekstensibilitas. Di masa depan IPv6 dapat dikembangkan lagi fitur-fiturnya dengan menambahkanya pada extension header.
Dasar IPv6 : Perbandingan IPv4 dan IPv6
Beberapa perbandingan utama IPv4 dan IPv6 :
Pembanding
IPv4
IPv6
Panjang Alamat
32 bit (4 bytes)
128 bit (16 bytes)
Proses konfigurasi
Manual atau DHCP IPv4
Tidak harus secara manual, bisa menggunakan address autoconfiguration.
Dukungan IPSec
opsional
dibutuhkan
Proses Fragmentasi
dilakukan oleh pengirim dan pada router, menurunkan kinerja router.
dilakukan hanya oleh pengirim.
Ukuran paket link layer
Tidak mensyaratkan ukuran dan harus bisa menyusun kembali paket berukuran 576 byte.
harus mendukung ukuran paket 1280 byte dan harus bisa menyusun kembali paket berukuran 1500 byte
Checksum
termasuk pada header.
tidak masuk dalam header.
Header
mengandung option.
Data opsional dimasukkan seluruhnya ke dalam extensions header.
ARP Request
secara broadcast untuk menterjemahkan alamat IPv4 ke alamat link-layer.
digantikan oleh Neighbor Solitcitation secara multicast.
Internet Group Management Protocol (IGMP)
Untuk mengelola keanggotaan grup pada subnet lokal
digantikan fungsinya oleh Multicast Listener Discovery (MLD).
Dasar IPv6 : Pengalamatan
Dalam arsitektur pengalamatannya alamat IPv6 mempunyai ukuran 128 bits yang artinya kira-kira berjumlah 2^128 atau kira-kira 3,4 x 10^38 alamat. Namun perhitungan teori ini tidaklah sepenuhnya akurat karena adanya hirarki routing dan kenyataan bahwa pada akhirnya nanti sebuah alamat akan didelegasikan sebagai blok yang bersambung dan bukan sebagai tiap-tiap satuan alamat. Alamat IPv6 tersebut kira-kira akan terpotong setengahnya. Tidak akan pernah ada subnet yang memiliki 64 bit alamat signifikan atau lebih. Dari 128 bit tersebut hanya akan digunakan 64 bit untuk routing global dan internal yang disebut sebagai routing prefix. Sisa 64 bit dari alamatlah yang akan menunjukkan sebuah host pada suatu subnet yang disebut sebagai host identifier atau host id.
Alamat ini bisa direpresentasikan menjadi 8 segmen bilangan 16 bit dalam bilangan heksa antara 0x0000 s.d 0xffff misal : 2001:d30:3:242:0000:0000:0000:1 Untuk penyederhanaan bisa dituliskan sebagai berikut : 2001:d30:3:242:0:0:0:1 atau, 2001:d30:3:242::1
Untuk pendelegasian ke subnet biasanya akan dinyatakan dalam blok alamat yang dituliskan dalam blok alamat dengan panjang prefix tertentu dengan notasi CIDR seperti misalnya : 2001:d30:3:240::/56
Alamat IPv6 ini dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu :
1. Alamat Unicast Global Unicast, merupakan alamat dengan skup global dan unik sehingga bisa di-rute-kan di Internet. Selain global unicast, IPv6 juga mempunyai alamat local unicast dengan skup terbatas pada link lokal. Beberapa tipe alamat unicast IPv6 ini antara lain :
Aggregatable global unicast addresses Sering disebut sebagai alamat global, mirip dengan alamat publik pada IPv4 dan alamat ini ditandai dengan prefix 001. Alamat ini bisa dirutekan dan dijangkau secara global dari alamat IPv6 di Internet. Dinamakan aggregatable karena memang didesain untuk bisa diaggregasi dan diringkas (aggregation dan summarization) untuk menghasilkan infrastruktur routing yang efisien. IANA telah mulai mengalokasikan blok alamat pertama untuk alamat global ini yaitu 2001::/16. Menurut kebijakan IANA setiap end-site seharusnya diberikan blok alamat IPv6 dengan panjang prefix /48.
Link-local addresses Alamat ini digunakan untuk berkomunikasi dalam skup link lokal yaitu pada link yang sama (misal jaringan flat tanpa router). Router tidak akan melewatkan trafik dari alamat-alamat ini keluar link. Alamat ini ditandai dengan prefix 1111 1110 10 atau FE80::/10. Alamat ini akan selalu diawali FE80 dan menggunakan prefix FE80::/64 dengan 64 bit selanjutnya adalah interface id. Alamat link local ini dikonfigurasikan melalui IPv6 autoconfiguration.
Site-local addresses Alamat ini mirip dengan alamat private pada IPv4 yang dalam teknologi IPv6 digunakan dalam skup site dan ditandai dengan prefix 1111 1110 11 atau FEC0::/10. Alamat ini akan selalu diawali dengan FEC0. Karena sifatnya yang ambigu dan sulitnya pendefisinian baku dari skup site maka alamat ini dihapuskan penggunaanya.
Special addresses Ada dua jenis alamat spesial pada IPv6 yaitu : a. Alamat yang tidak dispesifikkan (unspecified address) Sering disebut all-zeros-address karena memang bernilai 0:0:0:0:0:0:0:0 atau bisa dituliskan ::. Alamat ini sama dengan 0.0.0.0 di alamat IPv4. Alamat ini tidak boleh dikonfigurasikan pada interface dan tidak boleh menjadi tujuan rute. b. Alamat loopback Jika alamat loopback pada IPv4 adalah 127.0.0.1 maka pada IPv6 dalah 0:0:0:0:0:0:0:1 atau bisa diringkas menjadi ::1. Alamat ini tidak boleh dikonfigurasikan pada interface.
Compatibility addresses Alamat ini dibuat untuk mempermudah migrasi dan masa transisi dari IPv4 ke IPv6. Beberapa alamat ini antara lain : a. Alamat IPv4-compatible b. Alamat IPv4-mapped c. Alamat 6over4 d. Alamat 6to4 e. Alamat ISATAP
NSAP addresses Adalah alamat yang digunakan untuk penterjemahan alamat Open System Interconnect (OSI) NSAP ke alamat IPv6. Alamat IPv6 ini ditandai dengan prefix 0000001 dan 121 sisanya adalah alamat NSAP.
2. Alamat Anycast Alamat ini lebih menunjuk kepada fungsi layanan daripada alamat. Alamat anycast sama seperti alamat unicast IPv6 biasa (telah ditentukan dalam standar) dengan tambahan fitur bahwa router akan selalu merutekan ke tujuan yang terdekat atau lebih tepatnya terbaik sesuai yang telah dikonfigurasikan.
3. Alamat Multicast Seperti halnya pada IPv4 pada IPv6 alamat ini menunjukkan sekumpulan piranti dalam grup multicast. Jadi alamat ini hanya akan muncul sebagai alamat tujuan, tidak akan pernah sebagai alamat asal. Jika paket dikirimkan ke alamat ini maka semua anggota grup akan memprosesnya.
Byte pertama menunjukkan bahwa ini adalah alamat multicast. Empat bit selanjutnya merupakan flag yang masing-masing telah didefinisikan. Bit pertama harus 0 karena dicadangkan untuk keperluan di masa mendatang. Bit kedua menunjukkan apakah alamat multicast ini mengandung alamat Rendezvous Point (RP), yaitu titik distribusi untuk aliran multicast tertentu dalam suatu jaringan multicast. Bit ketiga menandakan apakah alamat multicast ini mengandung informasi prefix. Sementara bit terakhir menunjukkan apakah alamat ini diberikan secara permanen. Bagian berikutnya adalah Scope yang digunakan untuk membatasi skup dari alamat multicast.
Alamat multicast ini memiliki skup antara lain sebagai berikut :
Skup alamat multicast IPv6
Nilai skup Deskripsi skup 0x0 Reserved 0x1 Node-Local 0x2 Link-Local 0x5 Site-Local 0x8 Organization Local 0xE Global 0xF Reserved
Bagian terakhir adalah penanda grup (Group ID). Pada prakteknya biasanya penanda grup ini dibatasi dalam 32 bit saja. Beberapa alamat multicast telah diberikan oleh IANA. Beberapa alamat yang diberikan ini dibuat untuk skup tetap dan beberapa diantaranya valid untuk semua skup. Beberapa alamat multicast yang telah diberikan dalam skup yang tetap tadi antara lain. Table 3 Alamat multicast well known
Alamat Deskripsi =========================== 1.Skup interface lokal FF01:0:0:0:0:0:0:1 All-nodes address FF01:0:0:0:0:0:0:2 All-routers address
2.Skup link lokal FF02:0:0:0:0:0:0:1 All-nodes address FF02:0:0:0:0:0:0:2 All-routers address FF02:0:0:0:0:0:0:3 Unassigned FF02:0:0:0:0:0:0:4 DVMRP routers FF02:0:0:0:0:0:0:5 OSPFIGP FF02:0:0:0:0:0:0:6 OSPFIGP designated routers FF02:0:0:0:0:0:0:7 ST routers FF02:0:0:0:0:0:0:8 ST hosts FF02:0:0:0:0:0:0:9 RIP routers FF02:0:0:0:0:0:0:A EIGRP routers FF02:0:0:0:0:0:0:B Mobile agents FF02:0:0:0:0:0:0:D All PIM routers FF02:0:0:0:0:0:0:E RSVP encapsulation FF02:0:0:0:0:0:0:16 All MLDv2-capable routers FF02:0:0:0:0:0:0:6A All snoopers FF02:0:0:0:0:0:1:1 Link name FF02:0:0:0:0:0:1:2 All DHCP agents FF02:0:0:0:0:0:1:3 Link-local Multicast Name Resolution FF02:0:0:0:0:0:1:4 DTCP Announcement FF02:0:0:0:0:1:FFXX:XXXX Solicited-node address
3.Skup site local FF05:0:0:0:0:0:0:2 All-routers address FF05:0:0:0:0:0:1:3 All DHCP servers FF05:0:0:0:0:0:1:4 Deprecated FF05:0:0:0:0:0:1:1000 to FF05:0:0:0:0:01:13FF Service location (SLP) Version 2
Dasar IPv6 : Struktur IPv6
Paket IPv6 terdiri dari komponen berikut :
1. Header IPv6 Header IPv6 ini akan selalu ada dengan ukuran yang tetap yaitu 40 bytes. Header ini merupakan penyederhanaan dari header IPv4 dengan menghilangkan bagian yang tidak diperlukan atau jarang digunakan dan menambahkan bagian yang menyediakan dukungan yang lebih bagus untuk komunikasi masa depan yang sebagian besar adalah trafik real-time. Beberapa perbandingan kunci dari header IPv4 dan IPv6 :
Jumlah header field berkurang dari 12 (termasuk option) pada header IPv4 menjadi 8 pada header IPv6.
Jumlah header field yang harus diproses oleh router antara (intermediate router) turun dari 6 menjadi 4 yang membuat proses forwarding paket IPv6 normal menjadi lebih efisien.
Header field yang jarang terpakai seperti fields supporting fragmentation dan option pada header IPv4 dipindahkan ke extension header IPv6.
Ukuran header IPv6 memang bertambah dua kalinya, yaitu dari 20 bytes pada header minimum IPv4 menjadi tetap sebesar 40 bytes. Namun keuntungannya adalah header untuk pengalamatan menjadi 4 kali lebih panjang dari IPv4 (dari 32 menjadi 128 bit) yang menyebabkan tersedianya jumlah alamat yang jauh lebih besar.
2. Extension headers Header dan extension header pada IPv6 ini menggantikan header dan option pada IPv4. Tidak seperti options pada IPv4, extension headers IPv6 tidak memiliki ukuran maksimum dan dapat diperluas untuk melayani kebutuhan komunikasi data di IPv6. Jika pada header IPv4 semua option akan dicek dan diproses jika ada maka pada extension headers IPv6 hanya ada satu yang harus diproses yaitu Hop-by-Hop Options. Hal ini akan meningkatkan kecepatan pemrosesan header IPv6 dan meningkatkan kinerja forwarding paket IPv6. Extension header yang harus didukung oleh setiap titik IPv6 yaitu : – Hop-by-Hop Options header – Destination Options header – Routing header – Fragment header – Authentication header – Encapsulating Security Payload header
3. Protocol Data Unit (PDU) dari layer yang lebih tinggi (upper layer) Protocol Data Unit (PDU) layer yang lebih tinggi pada dasarnya terdiri dari header protokol layer yang lebih tinggi dan payload yang terkandung di dalamnya misalnya saja TCP, UDP atau ICMPv6.
Sumber: https://blog.ub.ac.id/liapermatasari/2011/04/03/contoh-implementasi-ipv6-dan-perbedaan-dari-ipv4/
Format header baru Header baru IPv6 lebih efisien daripada header pada IPv4 (karena memiliki overhead yang lebih kecil). Hal ini diperoleh dengan menghilangkan beberapa bagian yang tidak penting atau opsional.
Jumlah alamat yang jauh lebih besar Dengan spesifikasi bit untuk alamat standar sebanyak 128-bit memiliki arti IPv6 akan mampu menyediakan 2^128 kemungkinan alamat unik. Walaupun tidak semuanya akan dialokasikan namun sudah cukup untuk keperluan masa mendatang sehingga teknologi semacam NAT pada IPv4 sudah tidak perlu lagi digunakan.
Infrastruktur routing dan addressing yang efisien dan hirarkis. Arsitektur pengalamatan IPv6 yang hirarkis membuat infrastruktur routing menjadi efisien dan hirarkis juga. Adanya konsep skup juga memudahkan dalam manajemen pengalamatan untuk berbagai mode teknologi transmisi.
Kemampuan Plug-and-play melalui stateless maupun statefull address auto-configuration. Pada teknologi IPv6, sebuah node yang memerlukan alamat bisa secara otomatis mendapatkannya (alamat global) dari router IPv6 ataupun cukup dengan mengkonfigurasi dirinya sendiri dengan alamat IPv6 tertentu (alamat link local) tanpa perlu adanya DHCP server seperti pada IPv4. Hal ini juga akan memudahkan konfigurasi. Hal ini penting bagi kesuksesan teknologi pengalamatan masa depan karena di Internet masa depan nanti akan semakin banyak node yang akan terkoneksi. Perangkat rumah tangga dan bahkan manusia pun bisa saja akan memiliki alamat IP. Tentu saja ini mensyaratkan kesederhanaan dalam konfigurasinya. Mekanisme konfigurasi otomatis pada IPv6 ini akan memudahkan tiap host untuk mendapatkan alamat, menemukan tetangga dan router default bahkan menggunakan lebih dari satu router default untuk redundansi dengan efisien.
Keamanan yang sudah menjadi standar built-in. Jika pada IPv4 fitur IPsec hanya bersifat opsional maka pada IPv6 fitur IPsec ini menjadi spesifikasi standar. Paket IPv6 sudah bisa secara langsung diamankan pada layer network.
Dukungan yang lebih bagus untuk QoS Adanya bagian (field) baru pada header IPv6 untuk mengidentifikasi trafik (Flow Label) dan Traffic Class untuk prioritas trafik membuat QoS yang lebih terjamin bisa diperoleh, bahkan ketika payload dari paket terenkripsi dengan IPSec dan ESP.
Berbagai protokol baru untuk keperluan interaksi antar node Adanya protokol baru misalnya Network Discovery dengan komunikasi multicast dan unicast yang efisien bisa menggantikan komunikasi broadcast ARP untuk menemukan neighbor dalam jaringan.
Ekstensibilitas. Di masa depan IPv6 dapat dikembangkan lagi fitur-fiturnya dengan menambahkanya pada extension header.
Dasar IPv6 : Perbandingan IPv4 dan IPv6
Beberapa perbandingan utama IPv4 dan IPv6 :
Pembanding
IPv4
IPv6
Panjang Alamat
32 bit (4 bytes)
128 bit (16 bytes)
Proses konfigurasi
Manual atau DHCP IPv4
Tidak harus secara manual, bisa menggunakan address autoconfiguration.
Dukungan IPSec
opsional
dibutuhkan
Proses Fragmentasi
dilakukan oleh pengirim dan pada router, menurunkan kinerja router.
dilakukan hanya oleh pengirim.
Ukuran paket link layer
Tidak mensyaratkan ukuran dan harus bisa menyusun kembali paket berukuran 576 byte.
harus mendukung ukuran paket 1280 byte dan harus bisa menyusun kembali paket berukuran 1500 byte
Checksum
termasuk pada header.
tidak masuk dalam header.
Header
mengandung option.
Data opsional dimasukkan seluruhnya ke dalam extensions header.
ARP Request
secara broadcast untuk menterjemahkan alamat IPv4 ke alamat link-layer.
digantikan oleh Neighbor Solitcitation secara multicast.
Internet Group Management Protocol (IGMP)
Untuk mengelola keanggotaan grup pada subnet lokal
digantikan fungsinya oleh Multicast Listener Discovery (MLD).
Dasar IPv6 : Pengalamatan
Dalam arsitektur pengalamatannya alamat IPv6 mempunyai ukuran 128 bits yang artinya kira-kira berjumlah 2^128 atau kira-kira 3,4 x 10^38 alamat. Namun perhitungan teori ini tidaklah sepenuhnya akurat karena adanya hirarki routing dan kenyataan bahwa pada akhirnya nanti sebuah alamat akan didelegasikan sebagai blok yang bersambung dan bukan sebagai tiap-tiap satuan alamat. Alamat IPv6 tersebut kira-kira akan terpotong setengahnya. Tidak akan pernah ada subnet yang memiliki 64 bit alamat signifikan atau lebih. Dari 128 bit tersebut hanya akan digunakan 64 bit untuk routing global dan internal yang disebut sebagai routing prefix. Sisa 64 bit dari alamatlah yang akan menunjukkan sebuah host pada suatu subnet yang disebut sebagai host identifier atau host id.
Alamat ini bisa direpresentasikan menjadi 8 segmen bilangan 16 bit dalam bilangan heksa antara 0x0000 s.d 0xffff misal : 2001:d30:3:242:0000:0000:0000:1 Untuk penyederhanaan bisa dituliskan sebagai berikut : 2001:d30:3:242:0:0:0:1 atau, 2001:d30:3:242::1
Untuk pendelegasian ke subnet biasanya akan dinyatakan dalam blok alamat yang dituliskan dalam blok alamat dengan panjang prefix tertentu dengan notasi CIDR seperti misalnya : 2001:d30:3:240::/56
Alamat IPv6 ini dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu :
1. Alamat Unicast Global Unicast, merupakan alamat dengan skup global dan unik sehingga bisa di-rute-kan di Internet. Selain global unicast, IPv6 juga mempunyai alamat local unicast dengan skup terbatas pada link lokal. Beberapa tipe alamat unicast IPv6 ini antara lain :
Aggregatable global unicast addresses Sering disebut sebagai alamat global, mirip dengan alamat publik pada IPv4 dan alamat ini ditandai dengan prefix 001. Alamat ini bisa dirutekan dan dijangkau secara global dari alamat IPv6 di Internet. Dinamakan aggregatable karena memang didesain untuk bisa diaggregasi dan diringkas (aggregation dan summarization) untuk menghasilkan infrastruktur routing yang efisien. IANA telah mulai mengalokasikan blok alamat pertama untuk alamat global ini yaitu 2001::/16. Menurut kebijakan IANA setiap end-site seharusnya diberikan blok alamat IPv6 dengan panjang prefix /48.
Link-local addresses Alamat ini digunakan untuk berkomunikasi dalam skup link lokal yaitu pada link yang sama (misal jaringan flat tanpa router). Router tidak akan melewatkan trafik dari alamat-alamat ini keluar link. Alamat ini ditandai dengan prefix 1111 1110 10 atau FE80::/10. Alamat ini akan selalu diawali FE80 dan menggunakan prefix FE80::/64 dengan 64 bit selanjutnya adalah interface id. Alamat link local ini dikonfigurasikan melalui IPv6 autoconfiguration.
Site-local addresses Alamat ini mirip dengan alamat private pada IPv4 yang dalam teknologi IPv6 digunakan dalam skup site dan ditandai dengan prefix 1111 1110 11 atau FEC0::/10. Alamat ini akan selalu diawali dengan FEC0. Karena sifatnya yang ambigu dan sulitnya pendefisinian baku dari skup site maka alamat ini dihapuskan penggunaanya.
Special addresses Ada dua jenis alamat spesial pada IPv6 yaitu : a. Alamat yang tidak dispesifikkan (unspecified address) Sering disebut all-zeros-address karena memang bernilai 0:0:0:0:0:0:0:0 atau bisa dituliskan ::. Alamat ini sama dengan 0.0.0.0 di alamat IPv4. Alamat ini tidak boleh dikonfigurasikan pada interface dan tidak boleh menjadi tujuan rute. b. Alamat loopback Jika alamat loopback pada IPv4 adalah 127.0.0.1 maka pada IPv6 dalah 0:0:0:0:0:0:0:1 atau bisa diringkas menjadi ::1. Alamat ini tidak boleh dikonfigurasikan pada interface.
Compatibility addresses Alamat ini dibuat untuk mempermudah migrasi dan masa transisi dari IPv4 ke IPv6. Beberapa alamat ini antara lain : a. Alamat IPv4-compatible b. Alamat IPv4-mapped c. Alamat 6over4 d. Alamat 6to4 e. Alamat ISATAP
NSAP addresses Adalah alamat yang digunakan untuk penterjemahan alamat Open System Interconnect (OSI) NSAP ke alamat IPv6. Alamat IPv6 ini ditandai dengan prefix 0000001 dan 121 sisanya adalah alamat NSAP.
2. Alamat Anycast Alamat ini lebih menunjuk kepada fungsi layanan daripada alamat. Alamat anycast sama seperti alamat unicast IPv6 biasa (telah ditentukan dalam standar) dengan tambahan fitur bahwa router akan selalu merutekan ke tujuan yang terdekat atau lebih tepatnya terbaik sesuai yang telah dikonfigurasikan.
3. Alamat Multicast Seperti halnya pada IPv4 pada IPv6 alamat ini menunjukkan sekumpulan piranti dalam grup multicast. Jadi alamat ini hanya akan muncul sebagai alamat tujuan, tidak akan pernah sebagai alamat asal. Jika paket dikirimkan ke alamat ini maka semua anggota grup akan memprosesnya.
Byte pertama menunjukkan bahwa ini adalah alamat multicast. Empat bit selanjutnya merupakan flag yang masing-masing telah didefinisikan. Bit pertama harus 0 karena dicadangkan untuk keperluan di masa mendatang. Bit kedua menunjukkan apakah alamat multicast ini mengandung alamat Rendezvous Point (RP), yaitu titik distribusi untuk aliran multicast tertentu dalam suatu jaringan multicast. Bit ketiga menandakan apakah alamat multicast ini mengandung informasi prefix. Sementara bit terakhir menunjukkan apakah alamat ini diberikan secara permanen. Bagian berikutnya adalah Scope yang digunakan untuk membatasi skup dari alamat multicast.
Alamat multicast ini memiliki skup antara lain sebagai berikut :
Skup alamat multicast IPv6
Nilai skup Deskripsi skup 0x0 Reserved 0x1 Node-Local 0x2 Link-Local 0x5 Site-Local 0x8 Organization Local 0xE Global 0xF Reserved
Bagian terakhir adalah penanda grup (Group ID). Pada prakteknya biasanya penanda grup ini dibatasi dalam 32 bit saja. Beberapa alamat multicast telah diberikan oleh IANA. Beberapa alamat yang diberikan ini dibuat untuk skup tetap dan beberapa diantaranya valid untuk semua skup. Beberapa alamat multicast yang telah diberikan dalam skup yang tetap tadi antara lain. Table 3 Alamat multicast well known
Alamat Deskripsi =========================== 1.Skup interface lokal FF01:0:0:0:0:0:0:1 All-nodes address FF01:0:0:0:0:0:0:2 All-routers address
2.Skup link lokal FF02:0:0:0:0:0:0:1 All-nodes address FF02:0:0:0:0:0:0:2 All-routers address FF02:0:0:0:0:0:0:3 Unassigned FF02:0:0:0:0:0:0:4 DVMRP routers FF02:0:0:0:0:0:0:5 OSPFIGP FF02:0:0:0:0:0:0:6 OSPFIGP designated routers FF02:0:0:0:0:0:0:7 ST routers FF02:0:0:0:0:0:0:8 ST hosts FF02:0:0:0:0:0:0:9 RIP routers FF02:0:0:0:0:0:0:A EIGRP routers FF02:0:0:0:0:0:0:B Mobile agents FF02:0:0:0:0:0:0:D All PIM routers FF02:0:0:0:0:0:0:E RSVP encapsulation FF02:0:0:0:0:0:0:16 All MLDv2-capable routers FF02:0:0:0:0:0:0:6A All snoopers FF02:0:0:0:0:0:1:1 Link name FF02:0:0:0:0:0:1:2 All DHCP agents FF02:0:0:0:0:0:1:3 Link-local Multicast Name Resolution FF02:0:0:0:0:0:1:4 DTCP Announcement FF02:0:0:0:0:1:FFXX:XXXX Solicited-node address
3.Skup site local FF05:0:0:0:0:0:0:2 All-routers address FF05:0:0:0:0:0:1:3 All DHCP servers FF05:0:0:0:0:0:1:4 Deprecated FF05:0:0:0:0:0:1:1000 to FF05:0:0:0:0:01:13FF Service location (SLP) Version 2
Dasar IPv6 : Struktur IPv6
Paket IPv6 terdiri dari komponen berikut :
1. Header IPv6 Header IPv6 ini akan selalu ada dengan ukuran yang tetap yaitu 40 bytes. Header ini merupakan penyederhanaan dari header IPv4 dengan menghilangkan bagian yang tidak diperlukan atau jarang digunakan dan menambahkan bagian yang menyediakan dukungan yang lebih bagus untuk komunikasi masa depan yang sebagian besar adalah trafik real-time. Beberapa perbandingan kunci dari header IPv4 dan IPv6 :
Jumlah header field berkurang dari 12 (termasuk option) pada header IPv4 menjadi 8 pada header IPv6.
Jumlah header field yang harus diproses oleh router antara (intermediate router) turun dari 6 menjadi 4 yang membuat proses forwarding paket IPv6 normal menjadi lebih efisien.
Header field yang jarang terpakai seperti fields supporting fragmentation dan option pada header IPv4 dipindahkan ke extension header IPv6.
Ukuran header IPv6 memang bertambah dua kalinya, yaitu dari 20 bytes pada header minimum IPv4 menjadi tetap sebesar 40 bytes. Namun keuntungannya adalah header untuk pengalamatan menjadi 4 kali lebih panjang dari IPv4 (dari 32 menjadi 128 bit) yang menyebabkan tersedianya jumlah alamat yang jauh lebih besar.
2. Extension headers Header dan extension header pada IPv6 ini menggantikan header dan option pada IPv4. Tidak seperti options pada IPv4, extension headers IPv6 tidak memiliki ukuran maksimum dan dapat diperluas untuk melayani kebutuhan komunikasi data di IPv6. Jika pada header IPv4 semua option akan dicek dan diproses jika ada maka pada extension headers IPv6 hanya ada satu yang harus diproses yaitu Hop-by-Hop Options. Hal ini akan meningkatkan kecepatan pemrosesan header IPv6 dan meningkatkan kinerja forwarding paket IPv6. Extension header yang harus didukung oleh setiap titik IPv6 yaitu : – Hop-by-Hop Options header – Destination Options header – Routing header – Fragment header – Authentication header – Encapsulating Security Payload header
3. Protocol Data Unit (PDU) dari layer yang lebih tinggi (upper layer) Protocol Data Unit (PDU) layer yang lebih tinggi pada dasarnya terdiri dari header protokol layer yang lebih tinggi dan payload yang terkandung di dalamnya misalnya saja TCP, UDP atau ICMPv6.
Sumber: https://blog.ub.ac.id/liapermatasari/2011/04/03/contoh-implementasi-ipv6-dan-perbedaan-dari-ipv4/
Jumat, 23 Desember 2016
Review Jurnal Sistem Pakar (Web-Based Expert System for Classification of Industrial and Commercial Waste Products)
Pada kesempatan kali ini saya akan melakukan review dari sebuah jurnal sistem pakar yang berjudul Web-Based Expert System for Classification of Industrial and Commercial Waste Products, jika melihat sekilas dari judulnya jurnal ini menjelaskan tentang sistem pakar yang dapat mengklasifikasikan jenis-jenis limbah industri ataupun komersial. Jurnal tersebut dapat di-download pada link berikut :
http://www.cisjournal.org/journalofcomputing/archive/vol2no6/vol2no6_2.pdf
Dibawah ini adalah hasil review dari jurnal tersebut :
Latar Belakang
Pada Jurnal Web-Based Expert System for Classification of Industrial and Commercial Waste Products bertujuan untuk melakukan klasifikasi sampah industri menggunakan sistem pakar yang berguna saat seorang ahli tidak bisa untuk datang ke lokasi dan melakukan pekerjaan tersebut. Dalam proses klasifikasi limbah setidaknya ada dua proses, yaitu menentukan jenis limbah berdasarkan EAK (Europäische Abfallartkatalog) dan menentukan cara pengangkutan limbah dari asal limbah ke tempat pembuangan limbah berdasarkan GGVSE (Gefahrgutverordnung
Straße und Eisenbahn). Sistem ini berbentuk web-based karena dianggap mudah untuk digunakan, sistem melakukan klasifikasi berdasarkan data dalam database atau secara analitik.
Pembahasan
Berdasarkan hukum, klasifikasi limbah harus mengikuti regulasi yang sudah ditetapkan. Dalam sistem ini, regulasi akan diinterpretasikan dalam bentuk struktur dibawah :
Dalam struktur terdapat 3 bagian yaitu root, node dan leaf. Root merupakan titik awal pencarian, node merupakan aturan atau interpretasi dari sebuah regulasi dan leaf hasil dari hasil proses klasifikasi limbah setelah dicocokan dengan node.
Prototitpe dari sistem ini diimplementasikan dalam bahasa java, aturan-aturan yang digunakan dalam proses klasifikasi limbah disusun ke dalam class java
Kesimpulan
Sistem Pakar untuk klasifikasi limbah dapat menyelesaikan masalah hukum dan ekonomi seperti proses penyimpanan, pembuangan, dan pengangkutan limbah, serta bisa dibangun dalam bentuk web-based.
Langganan:
Postingan (Atom)